Kamis, 09 Mei 2013

5 Negara Maju Tanpa Ujian Nasional

5 Negara Maju Tanpa Ujian Nasional




1. Finlandia





Finlandia sebagai negara dengan system pendidikan termaju di dunia tidak mengenal yang namanya Ujian Nasional. Evaluasi mutu pendidikan sepenuhnya dipercayakan kepada para guru sehingga negara berkewajiban melatih dan mendidik guru guru agar bisa melaksanakan evaluasi yang berkualitas. Setiap akhir semester siswa menerima laporan pendidikan berdasarkan evaluasi yang sifatnya personal dengan tidak membandingkan atau melabel para siswa dengan peringkat juara seperti yang telah menjadi tradisi pendidikan kita. Mereka sangat meyakini bahwa setiap individu adalah unik dan memiliki kemampuan yang berbeda beda.
Di Finlandia profesi guru adalah profesi yang paling terhormat. Dokter justru berada dibawah peringkat guru.



2. Amerika


Amerika yang terdiri dari banyak negara bagian ternyata tidak pernah menyelenggarakan UN atau ujian negara secara nasional.
Walaupun ada ujian yang diselenggarakan oleh masing-masing state (negara bagian), namun tidak semua sekolah diwajibkan mengikuti ujian negara bagian. Tiap negara bagian juga mempunyai materi ujian-masing masing.
Sekolah-sekolah tetap boleh menyelenggarakan ujian sendiri dan menentukan kelulusannya sendiri..
Semua lulusan, baik lulusan yang disenggarakan oleh sekolahnya sendiri atau lulus ujian yang diselenggarakan negara bagian, tetap boleh mengikuti ujian mauk ke college ataupun universitas asal memenuhi persyaratan dan lulus tes masuk.
Logika pendidikan yang digunakan yaitu: Kualitas pendidikan ditentukan oleh individu masing-masing kelulusan. Walaupun Si A lulusan dari SMA pinggiran yang tidak terkenal, kalau dia lulus tes masuk ke Universitas Harvard, maka diapun akan diterima di universitas tersebut.Jadi masalah kualitas ditentukan oleh individu (individual quality).
Pakar pendidikan dari Columbia University, Linda Hammond (1994)
Berpendapat bahwa nasionalisasi ujian sekolah tidak bisa memberi kreativitas guru. Sekolah tidak bisa menciptakan strategi belajar sesuai dengan perbedaan kondisi sosial, ekonomi, budaya, serta kemajuan teknologi. Sistem pendidikan top down oriented, tak bisa menjawab masalah yang ada di daerah-daerah berbeda.



3. Jerman


Jerman tidak mengenal ujian nasional. Kebijaksanaan yang diutamakan adalah membantu setiap peserta didik dapat berkembang secara optimal, yaitu dengan:
(1) menyediakan guru yang profesional, yang seluruh waktunya dicurahkan untuk menjadi
pendidik;
(2) menyediakan fasilitas sekolah yang memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan penuh kegembiraan dengan fasilitas olahraga dan ruang bermain yang memadai dan ruang kerja guru;
(3) menyediakan media pembelajaran yang kaya, yang memungkinkan peserta didik dapat secara terus-menerus belajar melalui membaca buku wajib, buku rujukan, dan buku bacaan, (termasuk novel), serta kelengkapan laboratorium dan perpustakaan yang memungkinkan peserta didik belajar sampai tingkatan menikmati belajar;
(4) evaluasi yang terus-menerus, komprehensif dan obyektif.
Melalui model pembelajaran yang seperti inilah, yaitu peserta didik setiap saat dinilai tingkah lakunya,
kesungguhan belajarnya, hasil belajarnya, kemampuan intelektual, partisipasinya dalam belajar yang menjadikan sekolah di Jerman mampu menghasilkan rakyat yang beretos kerja tinggi, peduli mutu, dan gemar belajar.
Mereka setiap hari belajar selalu mendapat tugas dari semua mata pelajaran yang proses maupun hasilnya dinilai dan nilai-nilai ini memengaruhi nilai akhir semester dan seterusnya.



4. Kanada


Di Kanada tidak ada Ujian Nasional karena dianggap tak bermanfaat untuk kemajuan pendidikan di negara iti. Untuk kontrol kualitas di Kanada terdapat penjaminan mutu pendidikan yang kontrolnya sangat kuat. Lembaga penjamin mutu ini benar-benar bekerja secara ketat dari pendidikan dasar hingga menengah. Sehinga murid yang akan masuk ke perguruan tinggi cukup dengan rapor terakhir.
Di Kanada, perguruan tinggi tidak sulit lagi untuk menerima murid darimana pun sekolahnya. Karena standar sekolah di sana sudah sesuai dengan standar perguruan tinggi yang akan dimasuki setiap lulusan sekolah.
Kebalikan dengan di Indonesia, perguruan tinggi banyak yang tidak percaya dengan lulusan sekolah menengah. Saling tidak percaya standar ini yang menyebabkan pemborosan keuangan negara karena harus menyelenggarakan UN dan ujian mandiri. 


5. Australia 





Di Negara Australia ini, ujian nasional tidak dilaksanakan bahkan tidak dikenal sama sekali, melainkan ujian state. Ujian ini tidak menentukan lulus tidaknya para peserta didik, namun untuk menentukan kemana siswa tersebut akan melanjutkan pendidikan. Berapapun nilai yang didapatkan oleh siswa dari ujian tersebut tetap dinyatakan lulus. Nilai nol pun tetap dinyatakan lulus, namun kelulusan tersebut tidak ada gunanya. Berarti siswa tersebut akan sangat sulit untuk melanjutkan pendidikannya. 
 

Fakta Seputar Sekolah Di Korea Selatan



Fakta Seputar Sekolah di Korea Selatan









1. Sekolah selama 16 jam dalam sehari



Para siswa sekolah menengah atas di Korea Selatan rata-rata memiliki durasi jam pelajaran dimulai dari jam 09.30 atau 10.00, sampai larut malam. Pemerintah mengatakan, tujuannya adalah agar siswa mampu masuk ke perguruan tinggi yang baik, setelah melewati kompetisi yang tinggi. Akibatnya, banyak siswa juga akan menghadiri program pembelajaran lain di luar jam sekolah. Setelah program sekolah memperkuat pendidikan dan pembelajaran bahasa Inggris, sehingga ada permintaan yang tinggi bagi mereka, dan bagi siswa, ini mungkin, satu sarana sosial mereka dan cara untuk bertemu teman-teman lain. Ini berarti rata-rata remaja Korea tidak pulang ke rumah sampai tengah malam, dan makan siang hingga makan malam-pun sampai disajikan di sekolah. Metode pembelajaran dengan waktu "gila-gilaan" seperti ini sebenarnya sudah mulai menuai kritik dari para pengamat pendidikan di Korea sendiri.





2. Sekolah di hari Sabtu



Bahkan, di hari sabtu mereka juga masih harus sekolah dengan jam pelajaran penuh ! Sampai saat ini, hari-hari sekolah adalah Senin sampai Sabtu. Hari ini, guru Korea bahkan jauh lebih bahagia, karena mereka memiliki dua kali waktu akhir pekan dalam sebulan, sementara siswanya tidak !





3. Honorable Teacher



Di Korea, ada pepatah "Guru setinggi Tuhan". Anda tidak dapat memandang status guru dari skala gaji mereka, tetapi guru memegang posisi sosial yang berharga dan tinggi di masyarakat. Usia pensiun guru tidak sampai 65 tahun. Senioritas berarti gaji meningkat dan jam terbang dikatakan lebih baik dari pekerjaan biasanya (meskipun ini sulit untuk percaya).





4. Mahalnya sarana proses pengajaran


Setiap ruang kelas dilengkapi dengan komputer (atau komputer / media podium) yang terhubung ke salah satu sistem proyektor overhead atau layar datar LCD. Walaupun keadaan sudah sedemikian canggih, ini tidak berarti semua guru sangat melek teknologi. 





5. Proses pemindahan guru selama 5 tahun sekali



Guru digilir bertugas di sekolah yang berbeda-beda setiap 5 tahun. Sistem ini lahir untuk memberikan setiap guru kesempatan yang adil di bekerja di sebuah sekolah yang baik atau buruk. 





6. Role playing via Hollywood style



Beberapa sekolah memiliki teknologi layar biru atau kamar dengan peralatan canggih yang memungkinkan situasi dalam ruangan tersebut sama seperti keadaan lingkungan di luar sana dimana seorang anak akan mempraktekkan ilmu pembelajarannya. Salah satu contoh kelas yang kita lihat adalah kelas ekkonomi, yang lengkap dengan lorong, rak, pasar mini, dan sebagainya. Bahkan, untuk pembelajaran praktek kesehatan, memerka seperti memiliki rumah sakit sendiri.





7.  Hukuman fisik yang keras masih berlaku



Sementara di AS, hukuman fisik dalam kelas sudah dilarang, sistem pendidikan Korea dan orang tua dari para siswa punya masalah dengan disiplin fisik di ruang kelas sekolah. Hal ini masih diperbolehkan, walaupun sudah ada kabar bahwa akan diberlakukan pemantauan yang ketat untuk mencegah terjadinya kekerasan guru kepada siswa dan pelanggaran HAM. Biasanya, guru laki-laki disana sangat keras dan mudah sekali memberikan hukuman fisik.

 



8. Setiap siswa memliki "nama Inggris"



Pernah bertanya-tanya mengapa beberapa orang Korea asli memiliki nama Inggris, yang membuat Anda tertawa karena mereka sangat tidak cocok dengan wajah Asia yang mereka miliki ? Misalnya Alice, Kate, bahkan Angelina ? Salahkan itu pada guru bahasa Inggris asing yang memberikan nama itu pada mereka ! Beberapa program sekolah bahasa Inggris di Korea menawarkan siswa akan diberi nama bahasa Inggris untuk kelas bahasa Inggris mereka dan kadang-kadang itu terserah kepada guru EFL untuk melakukannya. 





9. Siswa bertanggung jawab atas kebersihan sekolah mereka



Seperti sekolah-sekolah di Indonesia,  sistem sekolah Korea mengajarkan siswa untuk bertanggung jawab atas perawatan sekolah mereka. Sementara petugas kebersihan cenderung melakukan tugas-tugas utama seperti membersihkan kamar mandi, membersihkan lorong-lorong, ruang kelas, tangga, dan soal memungut sampah di halaman sekolah, semua dilakukan oleh siswa di pagi hari sebelum bel berbunyi.





10. Siswa diperbolehkan menggunakan sandal di dalam kelas



Anda tahu bahwa tradisi orang Asia Timur, mengambil sepatu dan menepikannya dalam rak ketika memasuki rumah ? Korea memiliki sesuatu permasalahan yang mirip, mereka berpikir bahwa memakai sepatu di dalam ruangan akan membuat ruangan itu kotor. Guru dan siswa harus berganti sepatu dari satu sepatu ke sepatu lain yang khusus digunakan saat di dalam runangan saat memasuki gedung sekolah.